24 C
id

Mihrab dalam al Quran

Dalam kajian keagamaan, kata mihrab seringkali digunakan, khususnya berkenaan dengan masjid. Kata mihrab sangat berkaitan dengan tempat untuk beribadah. Selain itu, kata mihrab juga sudah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menerangkan bahwa mihrab adalah ruang kecil di langgar atau di masjid, tempat imam berdiri waktu salat berjamaah. Yang menarik, kata mihrab yang berasal dari bahasa Arab ini juga digunakan dalam ayat Al-Qur’an, lantas apa makna mihrab dalam Al-Qur’an?.

Oleh karena itu, mari kita telisik bagaimana kata mihrab secara bahasa. Kemudian kita lihat bagaimana penggunaannya dalam rangkaian ayat-ayat Al-Qur’an. Setelah itu, kita akan menggali pesan penting dari kajian mihrab ini di dalam Al-Qur’an.

Mihrab Secara Bahasa

Kata mihrab terambil dari bahasa Arab. Memiliki akar kata harb yang berarti perang. Kemudian, dari arti ini muncul hirbah yang berarti alat untuk perang. Sementara kata mihrab disandingkan dengan masjid, karena masjid adalah ruang untuk berperang melawan setan dan hawa nafsu. (Samīn Halabī, ‘umdatul hifādz fī tafsīr asyrafil alfādz, hal. 20)

Adapun selanjutnya, Ibn Manzūr menjelaskan bahwa kata mihrab berarti bagian depan rumah, tempat termulia dan memiliki bentuk jamak mahārīb. Senada juga dengan pendapat sejarawan Islam Ibnul Athīr, bahwa dalam perkembangannya kata mihrab bermakna tempat yang tinggi dan mulia. (Lisānul A’rab)

Melalui penjelasan di atas, secara bahasa kata mihrab memiliki pergeseran makna yang signifikan. Bermula dari tempat perang secara fisik, kemudian beralih menuju tempat perang yang bersifat non-fisik, yaitu perang dengan melawan setan dan hawa nafsu.

Mihrab dalam Al-Qur’an

Setelah kajian bahasa, selanjutnya kita akan melihat ragam penggunaan kata mihrab di dalam Al-Qur’an. Secara umum, di dalam Al-Qur’an, kata mihrab disebut sebanyak 4 kali dalam bentuk tunggal. Dan dalam bentuk jamak, mahārīb hanya disebut sekali.

Berikut adalah ayat-ayat yang menyebut kata mihrab:

Surat Ali Imran ayat 37:

فَتَقَبَّلَها رَبُّها بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَ أَنْبَتَها نَباتاً حَسَناً وَ كَفَّلَها زَكَرِيَّا كُلَّما دَخَلَ عَلَيْها زَكَرِيَّا الْمِحْرابَ وَجَدَ عِنْدَها رِزْقاً قالَ يا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هذا قالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشاءُ بِغَيْرِ حِسابٍ

Artinya: Lalu Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap kali Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata, “Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan ) ini?” Maryam menjawab, “Makanan itu berasal dari sisi Allah Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

Surat Ali Imran ayat 39:

فَنادَتْهُ الْمَلائِكَةُ وَ هُوَ قائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرابِ أَنَّ اللهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيى‏ مُصَدِّقاً بِكَلِمَةٍ مِنَ اللهِ وَ سَيِّداً وَ حَصُوراً وَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحينَ

Artinya: “Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang Zakaria tengah berdiri melakukan salat di mihrab, (seraya berkata), “Sesungguhnya Allah memberi berita gembira kepadamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi panutan, menahan diri (dari hawa nafsu), dan seorang nabi yang termasuk keturunan orang-orang saleh.”

Surat Maryam ayat 11:

فَخَرَجَ عَلى‏ قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرابِ فَأَوْحى‏ إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَ عَشِيًّا

Artinya: “Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia berkata kepada mereka dengan memberi isyarat, “(Demi mensyukuri nikmat ini) hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.”

Surat Sad ayat 21:

وَ هَلْ أَتاكَ نَبَأُ الْخَصْمِ إِذْ تَسَوَّرُوا الْمِحْرابَ

Artinya: “Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat mihrab (Daud)?

Keempat ayat di atas menggunakan kata mihrab sebagai tempat beribadah. Sebagaimana dalam konteks Nabi Zakaria, Sayyidah Maryam dan Nabi Daud. Kemudian Asy-Sya’rawi dalam tafsirnya, bahwa mihrab adalah tempat Ibadah. Kerena di dalamnya manusia berperang melawan setan dan hawa nafsunya. Selain itu, di dalam masjid, ia juga harus menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhiratnya. 

Adapun dalam bentuk jamak, termuat dalam Surat Saba’ ayat 13:

يَعْمَلُونَ لَهُ ما يَشاءُ مِنْ مَحاريبَ وَ تَماثيلَ وَ جِفانٍ كَالْجَوابِ وَ قُدُورٍ راسِياتٍ اعْمَلُوا آلَ داوُدَ شُكْراً وَ قَليلٌ مِنْ عِبادِيَ الشَّكُورُ

Artinya: Para jin itu membuat untuk Sulaiman gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring (besar) seperti kolam, dan periuk yang tetap (berada di atas tungku) yang ia kehendaki. Bekerjalah, hai keluarga Daud, untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”

Secara umum, berkaitan dengan kata mihrab dalam ayat ini, Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan, bahwa mihrab adalah tempat khusus untuk beribadah bagi para imam, pembesar dan pemuka. Setidaknya ada dua alasan yang dikemukakan atas penamaan ini.

Pertama, berasal dari kata harb: perang, karena mihrab secara hakikat adalah tempat perang melawan setan dan hawa nafsu. Kedua, secara bahasa mihrab bermakna tempat utama dalam suatu acara. Adapun tempat utama dalam beribadah adalah mihrab. 

Kontektualisasi Makna Mihrab

Setelah melihat makna bahasa dan penggunaannya dalam Al-Qur’an. Kata mihrab bisa kita maknai secara kontekstual dengan masa kita saat ini. Ada dua poin utama. Pertamabahwa dalam beribadah kita harus menempati posisi permulaan dan memilih tempat yang mulia. Jika ibadah itu berupa salat, maka salat kita harus terdepan. Adapun jika ibadah itu berupa bekerja, maka kita harus memilih tempat kerja yang baik dan mulia. Dan begitu seterusnya.

Adapun poin kedua, tempat ibadah harus selalu kita jadikan tempat untuk melawan setan dan hawa nafsu kita. Artinya, beribadah dengan khusyuk dan ikhlas. Selain itu, perang jenis ini dalam hadith dikenal dengan jihad melawan nafsu (jihad an-Nafs).

Oleh karena itu, mari kita jadikan hidup kita sebagai mihrab. Yaitu hidup dengan memilih kemuliaan dan keutamaan, dengan cara terus melawan keburukan, kezaliman dan hawa nafsu kita. Sehingga, kita menjadi manusia yang beruntung dari perang di dunia menuju rumah di surga.

Semoga tulisan sederhana ini dapat bernilai manfaat. Sekaligus menjadi pengingat untuk kita selalu memihak kebenaran di atas kebatilan, kebaikan di atas keburukan, dan kebijaksanaan di atas kezaliman. Wallahu’alam bishawab[].

disadur dari tafsiralquran.id

Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Ads Single Post 4